Muara Gembong, Mangrove Cantik yang Tersembunyi di Bekasi

Kalau Jakarta mempunyai Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk, tentu Bekasi mempunyai Muara Gembong. Hutan mangrove ini sangat indah dan masih tetap alami. Inilah paras cantik Bekasi yang penduduknya sendiri barangkali belum tahu. “Iya mas, orang Bekasi saja tidak tentunya tahu mengenai Muara Gembong,” ujar Ucie kepada kami,

Ucie adalah putra asli dari Muara Gembong, bersamaan founder dari Muara Gembongku. Sebuah komunitas pecinta lingkungan dari Muara Gembong yang peduli akan kelestarian hutan mangrove. Dibentuknya, sekitar tahun 2010.

“Kita berangkat dari topik lingkungan di Muara Gembong. Hutan mangrovenya sudah hancur karena dijadikan tambak oleh nelayan di sana. Sehingga mengakibatkan abrasi dan banjir,” terangnya.

Muara Gembong sesungguhnya merupakan nama kecamatan yang letaknya di Kabupaten Bekasi. Di dalamnya terdapat enam desa yakni Desa Pantai Bahagia, Pantai Mekar, Pantai Sederhana, Pantai Harapan Jaya, Desa Pantai Bakti, Desa Jaya Sakti. Perjalanan dari central Kota Bekasi ke sana, sekitar 70 km dan atau menggunakan mobil ditempuh dengan jangka waktu 2 jam. Lalu, apa spesialnya hutan mangrove di Muara Gembong ini?

“Hutan mangrove di Muara Gembong memiliki panjang sekitar 17 km, sangat luas. Di beberapa spot, pohon bakaunya besar-besar. Meskipun ada yang telah rusak, namun lainnya masih tetap banyak yang alami,” jawab Ucie. Hutan mangrove yang hancur, bukan berarti berakhir begitu saja riwayatnya. Malah hutan mangrove yang rusak, lagi-lagi dibenahi dan dilakukan konservasi. Jadi bukan hanya datang untuk foto-foto, namun sekaligus belajar mengenai hutan mangrove dari A sampai dengan Z!

Soal view, hutan mangrove di Muara Gembong layaknya seperti di Kalimantan saja. Sembari naik perahu sampan, Kalian akan mengarungi sungai dengan pohon-pohonan bakau di kanan dan kiri. Tanpa ada polusi, mondar-mandir orang lain sampai suara kendaraan, benar-benar seakan-akan di alam liar.

“Banyak wisatawan yang telah ke sini dan kaget, jika ada hutan mangrove dengan luas dan selebat ini di Jawa Barat. Apalagi, kita pun memperkenalkan cara budidaya mangrove dari teknik menanam dan seperti apa merawatnya,” kata Ucie.

Menurut Ucie, pemerintahan Bekasi pernah beberapa kali turun tangan guna bersosialisasi dan memberi pelatihan kepada warga Muara Gembong soal pelestarian mangrove, misalnya tiap kolam tambak yang dibuat masyarakat disana harus ditanami satu tanaman bakau. Sayangnya tidak sungguh-sungguh, hingga membuat dia dan komunitasnya segera terjun ke lapangan.

Tapi Ucie tidaklah menyerah. Dia dan komunitasnya menciptakan paket pariwisata kepada wisatawan untuk berkunjung ke hutan mangrove di Muara Gembong. Ekowisata yang dianggapnya dapat menjadi peluang pariwisata besar untuk Bekasi.

Tarif paket yang dibandrol oleh Muara Gembongku, sekitar Rp 70 ribu per orang. Dengan biaya segitu, sudah boleh ikut kegiatan menyusuri hutan mangrove naik sampan dan bakar ikan. Asyik!

“Kapal-kapal di Muara Gembong boleh disewa juga kok. Harga sewanya sekitar Rp 400 ribu untuk speedboat yang berukuran besar lantaran aslinya adalah kapal barang-barang, yang muat hingga 40 orang. Atau, memakai sampan juga bisa yang harga sewanya jauh lebih murah,” tuturnya.

Normalnya, Ucie akan mengarahkan wisatawan berkunjung ke hutan mangrove di Desa Pantai Bahagia. Di sanalah, hutan mangrovenya terbilang sangat baik kualitasnya dan pemandangannya elok. Di sana juga, masih ada habitat lutung Jawa yang termasuk dalam kategori kritis punah! “Sungguh jauh jalan menuju ke Muara Gembong, namun itu akan terbayar setara. Saya jamin, hutan mangrove di Muara Gembong setingkat lebih indah dari di PIK Jakarta,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.